Menjadi sukses, kaya, terkenal, hidup mapan dan berkecukupan adalah impian
setiap orang. Tentu mereka yang bersungguh-sungguh akan mengerjakan segala
sesuatunya dengan sepenuh hati, pantang menyerah, dan mental baja agar
mendpatkan hasil yang maksimal. Tentu banyak kisah inspiratif dari para Taipan
bisnis yang bisa kita ambil hikmahnya dalam hal positif, tentang bagaimana
perjuangan mereka mulai dari membangun kerajaan bisnis hingga berjaya. Majalah
ekonomi Forbes merilis daftar orang
terkaya dunia versi majalah mereka setiap tahunnya, dan tahukah Anda ternyata dalam
daftar tahunan itu mayoritas di tempati oleh sejumlah pebisnis top
kewarganegaraan Amerika Serikat dan Tiongkok. Sejumlah Taipan bisnis Indonesia
juga masuk dalam daftar ini, meski jumlahnya tak seberapa.
Ada begitu banyak Miliarder baru di dunia ini, salah satu negara penyumbang
Orang Kaya Baru (OKB) adalah negeri tirai bambu, Tiongkok, hal ini sejalan
dengan kondisi fundamental negeri ini yang kian baik. Banyak pengusaha asal
tiongkok melakukan ekspansi bisnis ke berbagai negara yang praktis semakin membuat
pundi-pundi ekonominya kian kuat. Dari sejumlah nama Miliarder Tiongkok, ada
sosok yang menarik untuk kita tarik ke belakang tentang perjalanan hidup dan
perjuangannya hingga menjadi seorang yang sukses seperti sekarang ini. Adalah
Li Ka-Shing, salah satu orang terkaya di Asia yang dulunya adalah seorang buruh
pabrik. Serius??
| Li Ka-Shing Miliarder Asia (Source image) |
Li Ka-Shing dalam rilis tahunan daftar orang terkaya pada November 2015
menempatkannya menjadi orang terkaya di Hong Kong dan benua Asia dengan total
kekayaan mencapai jumlah yang fantastis, yakni 34 Miliar Dollar dan mengokohkan
namanya sebagai salah satu orang terkaya di benua Asia. Ingin tahu kisah hidup
dan inspiratif lainnya dari Li Ka-Shing,
berikut Admin sudah olah dari berbagi sumber untuk Anda.
1. Yatim Piatu
Menjadi seorang anak yatim piatu tentu bukan harapan setiap anak, akan
tatapi Li Ka-Shing mengalamai kemalangan dengan menjadi yatim saat usianya
masih 14 tahun. Pria kelahiran Chaozhou, Guangdong, Tiongkok pada 13 Juni 1928 bahkan
harus pindah dari kampung halamannya di Chaozhou ke Hong Kong lantaran alasan
keamanan seiring masuknya penjajah Jepang.
Ayah dari Li Ka-Shing dahulunya menjabat sebagai seorang Kepala Sekolah sebelum akhirnya meninggal karena penyakit TBC, semenjak itu pula Li Ka-Shing menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai seorang buruh di sebuah pabrik plastik.
Kondisi hidup yang sulit dan menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga, dengan berat hati Li Ka-Shing memilih putus sekolah dan fokus pada bekerja. Setiap harinya Li Ka-Shing harus menghabiskan waktu setidaknya 16 jam untuk bekerja membuat tali arloji plastik. Bayangkan, saat anak-anak seusianya masih sibuk bermain dan belajar, ia sudah merasakan kerasnya dunia dimana hampir separuh dari harinya ia habiskan di tempat kerja demi keberlangsungan hidup keluarganya.
![]() |
| Li Ka-Shing (Source Image) |
Ayah dari Li Ka-Shing dahulunya menjabat sebagai seorang Kepala Sekolah sebelum akhirnya meninggal karena penyakit TBC, semenjak itu pula Li Ka-Shing menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai seorang buruh di sebuah pabrik plastik.
Kondisi hidup yang sulit dan menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga, dengan berat hati Li Ka-Shing memilih putus sekolah dan fokus pada bekerja. Setiap harinya Li Ka-Shing harus menghabiskan waktu setidaknya 16 jam untuk bekerja membuat tali arloji plastik. Bayangkan, saat anak-anak seusianya masih sibuk bermain dan belajar, ia sudah merasakan kerasnya dunia dimana hampir separuh dari harinya ia habiskan di tempat kerja demi keberlangsungan hidup keluarganya.
2. Mendirikan Perusahaan
Kerja keras, disiplin dan motivasi untuk bisa mendapatkan hidup yang lebih
baik seolah menjadi cemeti dalam kamus hidup Li Ka-Shing. Setelah melewati
masa-masa suram menjadi seorang buruh pabrik, pada akhirnya Li Ka-Shing
memutuskan berhenti dari pabrik tempatnya bekerja. Pada usia yang masih relatif
muda, 22 tahun, Li Ka-Shing mendirikan sebuah usaha yang berfokus pada
pembuatan mainan dari plastik. Bidang yang tak jauh berbeda dari pekerjaannya
terdahulu, namun pada akhirnya Li Ka-Shing pindah haluan dengan melirik pasar
orientasi ekspor dimana perusahaannya beralih membuat bunga plastik yang saat
itu sangat populer di Italia. Keputusan tepat yang pada akhirnya menjadi babak
baru dalam perjalan bisnisnya dan titik balik menuju kejayaan.
![]() |
| Li Ka-ShingCEO Cheung Kong Holding (Source Image) |
Cheung Kong adalah nama perusahaan yang didirikannya, perusahaan yang
menjadi ladang bisnis dengan berfokus pada plastik. Sejak jauh hari Li Ka-Shing
sudah meyakini bahwa plastik akan menjadi barang yang sangat dibutuhkan olah
manusia modern, naluri bisnisnya pun tak meleset. Pria yang bahkan tak memiliki
ijazah karena putus sekolah setelah kematian sang Ayah, kini menjelma menjadi
seorang Miliarder, rasa ingin terus belajar dan berkembang menjadi faktor Li
Ka-Shing meriah kesuksesan dengan perusahaannya.
Dalam dunia bisnis, Loyalitas dan Reputasi adalah hal yang tak bisa
dipisahkan adanya. Li Ka-Shing dikabarkan pernah menolak sebuah tawaran yang
akan memberinya keuntungan berkali lipat, sebuah tawaran menggiurkan dimana
sebenarnya Li akan bisa lebih mengembangkan bisnis dengan keuntungan yang di
dapatkannya. Namun, atas nama Loyalitas dan Reputasi, Li Ka-Shing memutuskan
menolak tawaran tersebut karena sudah memiliki kesepakatan dengan mitra bisnis
lainnya.
Kerasnya hidup, manis pahit sudah ia rasakan semenjak dari buruh pabrik
hingga miliarder. Tak ingin seperti kata pepatah yang mengatakan kacang lupa
kulitnya, nilai sosial dan dermawan menjadi sifat menarik dari Li Ka-Shing, dalam
sebuah wawancara khusus dengan Business Insider Li pernah mengungkapkan “Tidak
peduli seberapa kuat Anda, jika Anda tidak memiliki hati yang besar, Anda tidak
akan berhasil”
4. Investor Handal
![]() |
| Li Ka-Shing orang terkaya di Asia (Source Image) |
Hidup dalam kemewahan sama sekali tak merubah karakter asli Li Ka-Shing,
masa-masa suram sejak dari anak-anak tak menghilang begitu saja. Dalam
keseharian Li Ka-Shing adalah sosok yang sederhana, Li Ka-Shing memiliki
kebijakan No-Debt Policy dimana dalam melakukan bisnis ia memegang prinsip
bahwa perusahaan dibangun, dikembangkan dan dijalankan tanpa perlu banyak
melakukan pinjaman atau berhutang. Ia bahkan membeli semua real-estate dengan
modalnya sendiri, Li lebih suka "membuang" uangnya dengan melakukan
investasi dari pada membeli sesuatu yang bersifat duniawi dan menyusut
nilainya. Li Ka-Shing menjadi salah satu investor terbesar dari situs sosial
media, Facebook. Bahkan dikabarkan akhir-akhir ini Li Ka-Shing menjadi investor
di sebuah perusahaan start up yang
berfokus pada pembuatan protein telur dari suatu jenis tanaman.
Li Ka-Shing adalah salah satu sosok miliarder
yang mampu mengguncang Asia dengan segala inovasinya.
“Visi bisa jadi kekuatan terbesar kita. Ia selalu
membangkitkan daya dan kesinambungan hidup; Ia membuat kita memandang masa
depan dan memberi kerangka tentang apa yang belum kita ketahui” Li Ka-Shing




Tidak ada komentar:
Posting Komentar